Dari laikang Muncul perlawanan: APPAMALLA Gugat AMDAL Pelabuhan KITA Yang Tertutup

Sabtu, 18 April 2026 - 18:10

5071 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Takalar — suarabhayangkarapost.net | Eskalasi penolakan terhadap rencana pembangunan Terminal Umum (pelabuhan) Kawasan Industri Takalar (KITA) oleh PT Tiran kian memanas. Aliansi APPAMALLA turun ke jalan dan “mengepung” Gedung Sentra Pangngurangi di Desa Pattoppakang, Kecamatan Laikang, Sabtu (18/4), sebagai bentuk perlawanan terbuka terhadap pelaksanaan rapat AMDAL yang mereka nilai cacat prosedur sejak tahap awal.
Aksi tersebut bukan sekadar unjuk rasa biasa, melainkan pernyataan politik warga muda Laikang atas apa yang mereka sebut sebagai “penghilangan sistematis” suara masyarakat pesisir. Massa menilai forum AMDAL yang digelar telah menjauh dari prinsip dasar partisipasi publik dan berubah menjadi ruang formalitas administratif untuk meloloskan proyek strategis.
Dalam orasi yang berlangsung bergelombang dan penuh tekanan, APPAMALLA membongkar komposisi undangan rapat yang dikeluarkan oleh pemerintah desa. Undangan tersebut ditujukan kepada Bupati/Wakil Bupati Takalar, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Perhubungan Laut, Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, Camat Laikang, serta sejumlah tokoh masyarakat. Namun, di balik daftar yang tampak “lengkap” itu, justru tidak mencantumkan pihak yang paling terdampak langsung—nelayan dan pelaku budidaya pesisir.
“Ini bukan sekadar kelalaian administratif. Ini adalah desain yang menyingkirkan rakyat dari ruang pengambilan keputusan. AMDAL tanpa nelayan adalah kebohongan yang dilegalkan,” tegas salah satu orator di hadapan massa aksi.
APPAMALLA menilai praktik tersebut bertentangan dengan prinsip utama penyusunan AMDAL yang mensyaratkan keterlibatan aktif, terbuka, dan bermakna dari masyarakat terdampak. Mereka menyebut forum yang digelar berpotensi menjadi legitimasi semu bagi proyek, bukan ruang deliberasi yang adil dan transparan.
Lebih jauh, massa menyoroti potensi dampak ekologis dan sosial yang dinilai tidak diungkap secara jujur dalam proses kajian. Pembangunan pelabuhan di kawasan Tanjung Laikang disebut berisiko merusak ekosistem pesisir, mengganggu wilayah tangkap nelayan, serta mengancam keberlangsungan ekonomi lokal yang selama ini bergantung pada laut.
“Kalau laut dirampas atas nama pembangunan, maka yang hilang bukan hanya ruang tangkap, tapi masa depan generasi pesisir. Ini soal hidup dan mati,” teriak orator lainnya, disambut sorak solidaritas massa.
Tak hanya itu, APPAMALLA juga melayangkan kritik keras terhadap pemerintah desa yang dinilai tidak netral dan cenderung mengakomodasi kepentingan korporasi. Mereka menuding proses yang berjalan menunjukkan keberpihakan yang timpang, di mana kekuatan modal lebih didengar dibandingkan suara rakyat.
Dalam tuntutannya, APPAMALLA secara tegas mendesak penghentian sementara seluruh proses penyusunan AMDAL proyek pelabuhan KITA. Mereka juga menuntut pelibatan langsung masyarakat terdampak—khususnya nelayan dan pembudidaya—dalam setiap tahapan konsultasi publik, serta membuka akses transparansi penuh terhadap dokumen kajian lingkungan.
Aksi berlangsung dalam pengawalan aparat keamanan dan tetap terkendali, meski diwarnai tekanan kuat dari massa yang menolak segala bentuk legitimasi prosedural tanpa keadilan substantif.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak pemerintah daerah Takalar maupun PT Tiran terkait tudingan pelanggaran prosedur tersebut.
APPAMALLA menegaskan bahwa aksi ini bukan akhir, melainkan awal dari konsolidasi perlawanan yang lebih luas. Mereka memastikan akan terus mengawal isu ini dan membuka kemungkinan gelombang aksi lanjutan jika tuntutan mereka tetap diabaikan.
“Pembangunan yang membungkam rakyat bukanlah kemajuan—itu adalah bentuk lain dari perampasan,” tutup pernyataan sikap mereka

Berita Terkait

DESAKAN PENANGANAN DUGAAN KASUS PELECEHAN OLEH OKNUM KETUA HMPS ILMU POLITIK
Belanja Sewa Hotel Rp 49 Juta lebih di Kecamatan Saguling KBB Disorot, Diduga Abaikan Inpres No 1 Tahun 2025,
Berbagi Takjil dan Berbuka Puasa Bersama Komunitas Andalan Keren (KAK).
Diduga Sarat Kepentingan Pribadi, Aksi SAPMA PP Gowa di SPBU Kalampa Tuai Sorotan Warga
Tuan Sore Menyampaikan Ucapan Terima Kasih Kepada Bapak Bupati Takalar, Perbaikan jalan Di Desa Punaga 
Pembuatan Parit di Desa Peuniti Diduga Tidak Sesuai Spesifikasi, Warga Keluhkan Kualitas Pekerjaan
GNPM menduga proyek pembangunan rehabilitasi Kantor Camat Pattallassang di kerja asal jadi
TNI Kembali Tunjukkan Profesionalisme: Mayjen TNI Krido Pramono Resmi Menjabat Pangdam, Publik Nilai ; Wujud TNI yang Semakin Prima

Berita Terkait

Selasa, 10 Maret 2026 - 22:34

Oknum Ketua Umum Organisasi Pers Terlibat Pemalsuan Tanda Tangan dan Dugaan Narkoba, Ini Harus Diusut Tuntas

Senin, 23 Februari 2026 - 20:29

Polisi Ungkap Jaringan Narkotika Lintas Provinsi, 1 Warga Medan dan 2 Napi Mantan Calon Bupati Gayo Lues Periode 2025-2030

Rabu, 4 Februari 2026 - 22:02

Niat Klaim Asuransi, Kakak Bunuh Adik Kandung Sat Reskrim Polres Tanah Karo Ungkap Otak dan Eksekutor Pembunuhan

Selasa, 3 Februari 2026 - 21:17

Sat Reskrim Polres Simalungun Berhasil Ringkus Pencuri Sepeda Motor, Pelaku Gasak Motor Teman Sendiri

Selasa, 3 Februari 2026 - 10:56

Sidang Noel Ebenezer Guncang Penegakan Hukum: Saksi Bongkar Dugaan Permintaan Rp6 Miliar oleh Oknum Kejagung, Publik Desak Usut Tuntas

Selasa, 6 Januari 2026 - 00:55

Merasa Nama Baik Tercemar Argo Sembiring Buat Pengaduan ke Polres Karo

Rabu, 24 Desember 2025 - 20:02

Polres Kampar Ungkap Kasus Menonjol, Cabul & Curat, Kasat Reskrim: Kejahatan Tak Dibiarkan, Masyarakat Jangan Takut Melapor

Rabu, 24 Desember 2025 - 13:09

Tidak Ditemukan Penimbunan, Polisi Maksimalkan Pengawasan Distribusi Elpiji di Wilayah Kecamtan Blangpegayon Gayo Lues

Berita Terbaru

error: Content is protected !!